YouTube: Tips Hidup Sehat


عن أبي هريرة رضى الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم (اذا وقع الذباب في شراب أحدكم فليغمسه, ثم لينزعه فان في احد جنا حيه داء وفي الاخر شفاء) أخرجه البخاري وأبو داود وزاد (وانه يتقي بجناحه الذي فيه الداء).

Dari Abu Hurairah Ra bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda: “Apabila lalat terjatuh ke dalam minuman seseorang di antara kamu, maka hendaklah dia membenamkannya, kemudian membuangnya, kerana sesungguhnya pada salah satu dari kedua sayapnya terdapat penyakit, sedangkan pada sayap yang lainnya terdapat penawarnya.” (Disebut oleh al-Bukhari dan Abu Dawud) Menurut riwayat yang dikemukakan oleh Abu Dawud ditambahkan seperti berikut: “Dan sesungguhnya lalat itu melindungi dirinya dengan sayapnya yang mengandung penyakit.” -Hadits nomor 12, Kitab Ibanatul Ahkam

Dari dulu masalah kebenaran hadist ini sangat kotroversial antara ulama ahli pengetahuan. Kita semua tahu karakter lalat seperti apa dalam keseharian kita, hinggap di makanan, hinggap di minuman dan hinggap di mana saja dengan membawa bakteri di kakinya yang menimbulkan penyakit yang cukup beragam dari kolera hingga muntaber,

Hadits ini menjelaskan apabila ada lalat jatuh kedalam minuman (kopi, air putih atau jenis minuman yang lain), Nabi memerintah agar dicelupkan atau ditenggelamkan (يغمس) lalat itu ke dalam minuman yang dijatuhi, kemudian buang (ينزع) dan barulah boleh diminum.

Mengapa demikian? Menurut Alm. Almaghfurlah Kiai Abdul Aziz Marwi Hasba, ketika ada lalat jatuh ke sebuah minuman pasti sayap kirinya yang tenggelam terlebih dahulu, sedangkan sayap yang kanan tidak! Para pakar ahli kedokteran pernah meneliti hal ini di salah satu universitas ternama di Mesir, dengan menggunakan lalat (asli) dari Madinah sebagai bahan penelitian agar sesuai dengan hadist, namun sebetulnya semua lalat di dunia ini sama.

Di penelitan itu sayap yang kiri dan kanan dibedakan untuk dijadikan vaksin. Hasil vaksin yang dihasilkan pun berbeda, sayap kiri berwarna kuning dan sayap yang kanan berwarna hijau. Kemudian vaksin yang berwarna kuning disutikkan ke kelici, setelah lebih satu jam kelinci tersebut mengalami perubahan pada tubuhnya dan buang air terus, ini terbukti jika memang ada racun di sayap lalat yang kiri.

Kemudian setelah itu disuntikkan vaksin yang berwana hijau, vaksin hasil dari sayap kanan. Selang beberapa waktu setelah disuntikkannya kelinci tersebut keadaanya mulai membaik, dengan ini terbukti jika sayap yang kanan terdapat penawar racun yang ada di sayap kirinya.

Namun meski demikian masih saja banyak orang yang meragukan hadits ini karena mereka lebih mendahulukan akal dari pada syariat. Mereka lupa akan firman Allah Swt dalam surah al-An’am ayat 67, “Untuk setiap berita (yang dibawa oleh Rasul-Rasul) dan (waktu) terjadinya dan suatu saat nanti kamu akan mengetahuinya.” (QS. Al-An’am: 67)

Dalam buku (kitab) Fatwa Kontemporer (al-Fatawa al-Muasyiroh) karya Yusuf Qardawi, ketua Majelis Ulama seluruh dunia (kini beliau ada di Kuwait asalnya dari Mesir). Dijelaskan bahwa hadits ini shahih namun tidak muttafaq ‘alaih, dalam artian hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari saja yang ada dalam al-Jami’u Shahih.

Yang dimaksud dengan hadits bukan tergolong muttafaq ‘alaih menurut istilah ulama hadits yakni hadits yang tidak sama-sama diriwayatkan atau disepakati oleh as-Syaikhan(Imam Bukhari dan Imam Muslim). Sedangkan selama ini semua hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori itu diterima oleh jumhur ulama dari zaman dan masa yang berbeda-berbeda.

Dibahas secara kontektual, hadits ini tidak membahas dan mengulas tentang ushuludin dan pokok-pokok agama (aqidah). Hadits ini hanya berisi anjuran dari Nabi Muhammad Saw, agar selalu menjaga kesehatan. Jadi, jika ada seseorang (muslim) yang menyamarkan atau bahkan tidak pernah membaca dan mendengar sama sekali hadits ini tak masalah, tidak akan membuatnya cacat dalam beragama.

Apa lagi hadits ini juga termasuk hadist ahad, yakni yang mendengar hanya satu orang saja. Contoh mudahnya, semisal ada seorang kiai dawuh sesuatu kesalah satu santrinya namun tidak dawuh pada santri yang lain, maka wajar jika santri-santri yang lain ada yang tak percaya akan hal yang disampaikan oleh santri tersebut padahal itu sebenarnya dari kiainya.

Kesimpulannya hadits ini hanya anjuran Nabi Muhammad Saw. Jika semisal ada seseorang yang tidak mengamalkannya maka tak masalah. Namun alangkah baiknya kita mengikuti apa yang telah dilakukan Nabi, lebih pentingkan syariat dari pada akal.

Ilmu pengentahuan itu tidak akan pernah sempurna, boleh saja kali ini benar namun juga tidak menutup kemungkinan dikemudian hari nanti salah dan tidak sesuai dengan keadaan. Karena ilmu itu relatif, apabila manusia merasa kepintarannya itu lebih besar (keminter) dari pada rasa bodohnya, maka perkembangan intelektualitasnya tidak akan menemui titik temu.
[*]

Post a Comment