“Hasyim, kamu jadi ikut ke Bandung,” saya pandang lama pesan dari Mbak Vita yang baru masuk, dibaca berulang-ulang, tak sempat dibalas pesan susulan pun datang. “KTP-mu difoto, terus kirim ke Aku, perlengkapan segerah disiapkan untuk lima hari. Sudah jangan banyak bicara, kamu ikut ke Bandung menggantikan Pak Mitro, berangkat tanggal 2, jam 08.00, dari Stasiun Gubeng Surabaya,” omelannya membuat seribu pertanyaan yang ingin saya utarakan tak jadi, takut kenak semprot lagi.

Awal cerita saya tak (jadi) ikut acara Musyawarah Nasional (Munas) IV Forum Lingkar Pena (FLP) di Bandung, 3-5 November 2017, karena kuota peserta sudah penuh. Namun apa boleh buat jika jodoh tak akan kemana, yakini itu, karena sekenario Allah tidak bisa diduga-duga dan penuh kejutan!

Akhirnya saya pun jadi menghirup segarnya udara di Kota Bandung, menggantikan Pak Mitro yang sedang sakit. “Saya berangkat pak, doanya, semoga cepat sembuh,” sebelum berangkat ke Bandung saya sempat berpamitan ke Pak Mitro melalui pesan, karena bagaimana pun saya menggantikannya untuk berangkat ke Bandung.

Rabu sore, 1 November, saya sudah berkemas semua kebutuhan yang harus dibawa, mulai dari baju, alat mandi, buku, dan yang lain. Nanti jam 24.00, saya harus berangkat ke Surabaya, karena kereta dijadwalkan berangkat besok pagi, jam 08.10, dari stasiun Gubeng Surabaya.

Gelap dan dinginnya malam saya hembus dengan penuh kesyukuran. KenikmatanNya sungguh tak bisa diurai dengan kata-kata, hanya bisa bersyukur dan bersyukur saja. Di PO Akas Asri yang saya tumpangi menuju Surabaya ini serasa sendu, kaca yang berembun kadang menetes karena goncangan jalan yang tak rata, terdengar derit kaca dan baut saling bersautan, sebuah irama merdu yang mengatarkan saya ke alam bawah sadar, yang mebuat waktu seakan singkat, tas kurangkul dan tak terasa bus pun berhenti di terminal Purabaya Surabaya.

Saya lihat jam tangan masih menunjukkan pukul 04.15, langsung menuju kamar mandi karena 15 menit lagi sudah Shubuh. Saya basuh muka lusuh ini dengan air wudhu. Setelah menunaikan shalat saya langsung pesan ojek online, di terminal Purabaya sebenarnya banyak tukang ojek konvensional yang siap mengantar ke stasiun Gubeng. Tapi entah, saya tak pakai jasa mereka pasti kalian tahu apa alasannya. Perlu diingat juga ketika mau pesan ojek online jangan di dalam terminal, karena ketika memaksakan pasti akan ditolak atau disuruh keluar dulu dari terminal, karena kawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

Jam 05.45, saya sampai di stasiun Gubeng, plonga-plongo tak ada kawan. Duduk di kursi ruang tunggu sembari menunggu kawan FLP dari cabang lain yang akan ikut Munas di Bandung. Akhirnya saya bertemu Ilham Sadli dan Rizal dari FLP Cabang Jember. Disela-sela menunggu keberangkat kami juga sempat sarapan pecel di depan stasiun sambil ngobrol banyak hal terkait FLP dan blog.

Kereta Pertama
Denting nada lonceng stasiun yang khas berbunyi, menandakan sebentar lagi kereta akan berangkat. KA Pasundan yang akan mengantar kami ke Bandung, merupakan kereta api pertama yang saya naiki, jadi hal ini sangat spesial dan sayang jika tak diabadikan.

KA Pasundan adalah rakaian kereta kelas ekonomi ber-AC yang melayani jurusan Surabaya Gubeng-Kiaracondong Bandung, Jawa Barat. Berikut rute dan stasiun pemberhentian KA Pasundan yang disertai waku (kedatangan/keberangkatan), yang saya kutip dari actual.web.id. Keberangkatan dimulai dari Surabaya Gubeng (-/08.10), Wonokromo (08.17/08.19), Mojokerto (08.52/08.55), Jombang (09.17/09.20), Nganjuk (09.55/09.59), Caruban (10.28/10.32), Madiun (10.58/11.08), Walikukun (12.05/12.07), Sragen (12.28/12.30), Purwosari (12.59/13.05), Klaten (13.28/13.05), Lempuyangan (13.55/14.10), Wates (14.41/14.45), Kutoarjo (15.17/15.30), Gobong (16.22/16.24), Sumpiuh (16.40/16.47), Maos (17.10/17.12), Sidareja (17.55/17.57), Banjar (18.29/18.40), Ciamis (19.05/19.14), Tasikmalaya (19.38/19.49), Ciawi (20.15/20.38), Cipeudeuy (21.01/21/20), Cibatu (21.51/22.11), dan berakhir di Kiaracondong Bandung (23.25/-).
Terminal Kiaracondong Bandung
Jika mengacu pada jadwal di atas, perjalanan akan ditempuh selama 15 jam 15 menit. Bismillah, saya pun masuk gerbong, di tiket tertera bangku 15 A, duduk di sebelah jendela, tempat favorit karena nanti bisa menikmati alam disepanjang jalan dengan leluasa.

KA Pasundan ini termasuk kereta api ekonomi yang murah, harga tiketnya hanya Rp. 94.000, dan itu bisa dibeli dengan mudah melalui jasa pembelian tiket online seperti tiket.com dan yang lain.

Entah mungkin kecapekan tak teras tiba-tiba mata kucel ini terpejam setelah beberapa saat kereta melaju, saya kaget saat terbangun karena kursi di depan saya yang awalnya kosong sekarang sudah berisikan tiga perempuan. Berusaha tetap tenang, karena dalam posisi seperti ini saya paling tak nyaman dan canggung.

“Mas, juga dari FLP Jatim?” sapa salahsatu dari meraka.

“Iya, Mbak, kok tahu?”

“Itu bukunya!” Saya lihat kovernya, oh iya, judulnya Haruskah Aku yang Melamarmu, buku kumpulan cerita inspiratif tentang jodoh FLP Jatim. Ternyata mereka juga peserta Munas dari FLP Cabang Jombang.

“Oh iya, hahahahaha,” saya pun hanya bisa tertawa.

“Boleh pinjam?”

“Boleh, ini,” saya berikan buku yang belum sempat saya baca itu, karena kebetulan baru saja dipletekin plastiknya dan dicium aroma buku barunya. Dua ritual yang wajib dilakukan ketika beli buku baru.

Lupakan itu, karena sepanjang perjalanan saya hanya melihat keluar jendela menikmati indahnya pemandangan, menulis sesuatu di HP, dengerin musik, baca buku dan kadang sesekali tertidur.

Tapi sesuatu yang membuat saya salut kepada meraka, yakni dari pakaian yang mereka kenakan, kerudung dan bajunya gombrong (lebar), itu salah satu ciri perempuan yang taat akan aturan yang diperintahkan oleh Allah Swt (sholihah). Karena dengan demikian saya jamin mereka akan terjaga dari hal-hal yang bisa membahayakan dirinya. Selain itu mereka juga menyempatkan baca al-Quran di dalam kereta selepas Maghrib, masyaAllah keren sekali bukan?

Kemudian bagi yang tak tahan lapar, selain sarapan sebelum berangkat, bawalah bekal sendiri atau beli makanan di kereta (agak mahal). Karena jika tidak, kesempatan untuk beli makanan hanya ada di stasiun Lempuyangan Yogyakarta saja, soalnya nanti di sana kereta akan berhenti selama 15 menit.

Saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan ini, menembus dereta kursi dengan kecepatan super untuk membeli makanan di luar. Sebetulnya shalat pun bisa dilaksanakan di stasiun Lempuyangan ini, namun hal itu tetap mengkawatirkan kita ketinggalan kereta nantinya. Jadi lebih baik shalat di dalam kereta, tidak papa dengan cara shalat duduk. Selain itu juga saya sudah berniat menjamak takhir sholat Dhuhur dan Ashar tadi sebelum sampai di stasiun Lempuyangan jadi shalatnya nanti ketika waktu Ashar.

Assalamualaikum Bandung
Sesampainya di Stasiun Kiaracondong Bandung, lemah tak berdaya
Tepat jam 23.20 kami sampai di Stasiun Kiaracondong Bandung, semilir angin malam menjelang pagi terhirup dingin di hidung, kami beristirahat diruang tunggu stasiun dengan tempat seadanya selayaknya orang tak terurus. Namun hal tersebut tak berangsur lama, Pak Rafif Ahnaf, Ketua FLP Jatim, sudah menyewa beberapa mobil untuk mengatar kami ke tempat acara.

“Hoyong kamana Kang?” Tanya supir dengan berbahasa Sunda, saya lumayan paham dengan pertanyaan supir barusan. Dua kalimat terakhir jika di translate ke bahasa Jawa menjadi, “... nangdi Mas,”.

“Ke Wisma Diklat Bina Marga/UPTK Kebinamargaan Wilayah II, jl. L.L RE Martadinata 119, Cihapit, Bandung Wetan, Pak,” jawab Mas Baim, asal FLP Cabang Surabaya, sambil memandang layar HPnya yang berisikan alamat acara Munas IV FLP.

Akhirnya jam 03.45, sampai di lokasi, setelah agak lama menunggu akhirnya saya diberi kunci kamar nomor 15. Alhamdulillah bisa merebahkan badan capek ini meski sebentar, cukuplah untuk istirahat sejenak sembari menunggu Shubuh datang.

Jumat pagi di 3 November, ditemani teh hangat untuk menikmati suasana pagi pertama di Bandung, dinginnya bersahabat dengan sedikit terpaan cahaya matahari yang hangat menyatu dikulit. Jam tangan sudah menunjukkan pukul 07.14. Sebelum makan saya mandi dulu, badan rasanya bau asem karena sudah sehari semalam belum mandi sama sekali. Kemudian setelah itu saya menuju ruang makan untuk mengisi perut karena jadwal acara pembukaan Munas IV  FLP akan dilaksanakan di Balai Kota Bandung jam delapan pas.

Saya pun menuju Balai Kota Bandung di pagi hari yang penuh rahmat ini menggunakan angkutan online. Kota Bandung memang didesain adem, betuk bangunan balai kotanya pun menggunakan arsitektur art deco yang didesain oleh arsitek EH de Roo.

Di sisi barat balai kota juga ada Masjid  al-Ukhuwah yang bentuk bangunannya tak jauh berbeda, ada kesan seninya.  Selepas acara pembukaan saya pun shalat Jumat di sana, kebetulan waktu itu saya berada di lantai dua, yang jadi perhatian saya adalah lantainya unik, terbuat dari kayu yang di plitur terlihat klasik dan terkesan nyaman.

Selepas shalat saya juga sempat beli rujak manis di depan masjid, ternyata orang Bandung itu ramah-ramah, tutur bahasanya enak didengar meski hanya sedikit yang saya pahami, seperti kumaha damang, wilujeng sumping dan berbagai ucapan Sunda lainnya yang enak didengar.

Ketika saya ngobrol dengan salahsatu dari mereka pasti langsung mengeluarkan jurus andalan yakni berbahasa Indonesia, bahasa pemersatu berbagai suku bangsa ini. Juga kadang ada yang tak paham jika saya tidak bisa berbahasa Sunda, akhirnya pun hanya bisa menganggukan kepala sambil tersenyum.

Taarufin Kota Bandung
Suasana Munas IV FLP di Bandung
Minggu 5 November, setelah sekian banyak dan padatnya acara Munas IV FLP, dari sidang pleno, seminar, berkesempatan bertemu dengan penulis-penulis keren sepeti Kang Abik, Bunda Helvy Tiana Rosa, Bu Afifah Afra (yang terpilih menjadi Ketua BPP FLP baru, masa khidmat 2017-2021), dan acara keren lainnya.

Akhirnya sebagai pamungkas acara Munas IV FLP, panitia mengajak semua peserta jalan-jalan dan mengeksplorasi Kota Bandung. Semua diharuskan berjalan menyusuri kota ini, tujuannya Balai dan Alun-alun Kota Bandung.

Jam tujuh pagi, semua peserta Munas yang merupakan perwakilan delegasi dari masing-masing wilayah se-dunia itu sudah siap berangkat.

Seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa kota ini sangat indah dengan bentuk bangunan yang unik bergaya seni arsitektur art deco.

Arsitektur art deco adalah bangunan peninggalan zaman colonial Belanda yang sangat terkenal di Indonesia, di Bandung banyak sekali bentuk bangunan dengan model arsitektur seperti ini, contohmya seperti Gedung Sate (1920).

Bangunan-bangunan kuno berarsitektur art deco atau lagam arsitektur kuno lainnya juga banyak saya jumpai di jalan Braga dan jalan Asia Afrika, mulai dari Gedung Merdeka, Toko De Vries, Kantor Pos Bandung, dan masih banyak bangunan yang lain.

Selain itu sepanjang jalan Kota Bandung juga banyak tumbuhan hijau dan bunga-bunga yang mempercantik suasana jalan. Sedap, nyaman dan adem dipandang itulah kesan yang saya rasakan selama berada di Kota Bandung.

Uniknya lagi, selain ada charger free yang disediakan Pemkot Bandung di titik-titk jalan tertentu ada juga sepeda kayuh (ontel) yang katanya gratis dipinjam. Namanya Bike On The Street Everybody Happy (Boseh), seperti yang saya baca sebelumnya di detiknews, Boseh belum lama diluncurkan oleh Pemkot Bandung. Dan juga tidak gratis alias disewakan! Sewanya dengan system top up. Harga sewanya juga murah hanya Rp. 1000/jam dan jam selanjutnya Rp. 2000. Jadi kalau sewa tiga jam biayanya menjadi Rp. 5000.
jabar.tribunnews.com,- Barisan Boseh di Kota Bandung
Boseh yang berwarna biru cerah ini sementara digratiskan karena masih dalam masa uji coba, tapi dengan syarat harus punya kartu (kendali) yang sudah dibeli dari halte regristasi atau jika semisal tidak punya bisa dengan proses manual, syarat cukup jaminan e-KTP atau kartu pelajar. Berhubung e-KTP saya ketinggalan di kamar jadinya gagal jalan-jalan di Kota Bandung dengan menggunakan Boseh. Meski tanpa Boseh saya tetap sampai di Alun-alun Kota Bandung bersama teman-teman yang lain, alhamdulillah.

Hamparan hijaunya rumput sintetis yang berukuran 1.200 m2 dan juga Masjid Raya Bandung Propinsi Jawa Barat itu kini ada  dihadapan saya. Tak tahu harus mengungkapkan kebahagiaan ini dengan kata-kata apa selain dengan bersyukur dan bersyukur.

Dulu Alun-alun Kota Bandung tidak seindah ini, sempit dan kumuh. Namun setelah Ridwal Kamil menjabat sebagai Wali Kota Bandung sejak 2013 lalu, inovasi-inovasi cemerlang banyak diluncurkan untuk mempercantik kota yang berjuluk Paris Van Java ini. Hal itu tak bisa dipungkiri karena memang Kang Emil-sapaan akrab sang wali kota-adalah lulusan arsitektur di ITB. Saya hanya bisa bilang kota ini sangat indah dengan segala rupa yang ada.

Kurang puas mengeksplor kota ini, sebelum akhirnya besok pagi, Senin 6 November, sudah kembali ke Jatim, saya lanjutkan menikmati keindahan Bandung di malam hari. Mampir Ke UIN Gunung Djati Bandung, Bundaran Cibiru, bertemu dengan teman yang sudah saya kenal lama melalui jejaring sosial, menikmati makanan pinggir jalan Kota Bandung, dan sebagai pamungkasnya saya sowan ke Popes Darut Tauhid Bandung Milik Aa Gym.

Para Peserta Munas delegasi Jatim
Itulah seuntai rasa dan cerita perjalanan saya ketika berkesempatan menghirup segarnya udara Kota Bandung, semoga ada sedikit kemanfaatan untuk kita semua. Amin Allahumma amin!
[*]

7 تعليقات

  1. Jadinya rasa apa? Coklat? Vanila? Strobery? Atau...rasa...mbayar? 😄

    ردحذف
  2. Trmksh sdh berbagi ...lewat tulisan cerita tsbt.

    ردحذف
  3. Sungguh tidak usah diragukan lagi... Semangat terus Kaka!

    ردحذف
  4. Sampean terlalu baik mas, buku belum dibaca udah dikasih pinjam ke akhwat 😀😀😀 yang minjam siapa btw... Uswah, Mada Atau Tarwiya hahaha
    (Sampe hafal aku namanya)

    ردحذف

إرسال تعليق