www.shuhuf.com
Kring... nada pesan Whatsaap tedengar samar-samar, sedikit mengganggu firman Allah yang sedang kubaca Shubuh ini. “Sodaqollahul adzim...,” kucium dan kutaruh baik-baik mushaf kesayangan itu di atas meja. Kuraih HP, lupa data selulernya tak dimatikan tadi.

“Kak, kapan pulang Aku rindu,” seketika dahi mengkerut membaca pesan ini!

“Iya Dik... sabar.”

“Kapan?”

Pesannya tak kubalas, padahal baru kemaren ketemu, ya meski itu hanya sebatas bersua sepintas. Tapi menurutku itu sudah lebih dari cukup. Aku rasa hubungan ini hanya akan membawa ke arah yang tak baik. Semua kegiatanku terbengkalai, belajar jadi tidak serius, selalu kepikiran, inginnya selalu berkirim kabar. Selama ini aku hanya terbuai dengan kata-kata manis yang katanya menambah semangat namun yang kurasakan malah sebaliknya!

***

Allahu Akbar, Allahu Akbar..., adzan Ashar terdengar merdu dari corong masjid pesantren. Seusai jamaah aku masih di dalam masjid hingga tidak ada orang satu pun. Menoleh kekanan dan kekiri, terlihat Kak Hisyam sendirian di teras masjid, kuhampiri dengan niatan ingin bercerita kegundahan hati. Entah, setiap kali aku cerita masalah hidup pasti Kak Hisyam mendengarkan dan memberi solusi.

“Assalamualaikum, Kak.”

“Waalaikasalam, Andi,” jawabnya lirih, bergeser dan menepuk lantai seraya menyuruhku duduk di sampingnya. Teras masjid sisi kanan ini merupakan tempat favoritnya, aku sering melihat Kak Hisyam di sini sering membaca Al-Quran, nulis dan kadang cuma sekedar duduk santai memandang hijaunya sawah. Tempatnya memang enak dan sejuk, berbatasan langsung dengan sawah warga sekitar yang menghampar luas. Tempat yang sangat pas untuk menghafal atau murojaah! 

“Kakak lagi apa?”

“Lagi lihat sawah,” jawaban yang sangat simpel sekali, tiba-tiba keraguan datang, malu untuk bercerita.

“Kak.”

“Iya, An. Ada apa?”

“Aku minta solusi, Kak,” aku pun memberanikan diri.

“Solusi apa?” Kak Hisyam membalikkan badan mengahadap ke arahku! “Jika Aku bisa jawab pasti akan kujawab,” lanjutnya.

“Masalah hati kak.”

“Hati? Perempuan? Kok gaya kamu, hehehehe,” Kak Hisyam malah ngeledek, tertawanya lepas sekali.

“Iya Kak,” aku tertunduk malu.

“Cerita...,” Kak Hisyam menaruh buku bacaanya, berjudul Merayakan Kehilangan karya Sanoji.

Aku masih terdiam, menarik nafas dalam-dalam, “Aku ingin fokus belajar Kak, entah aku kira setelah kenal perempuan belajar dan ibadah jadi lebih semangat. Tapi malah sebaliknya.”

“Terus?”

“Aku bingung.”

“Pernah dengar cerita cinta Laila dan Majnun?” Tanya Kak Hisyam dengan pandangan yang tanjam. Aku hanya bisa menggelengkan kepala.

“Kenapa Laila masuk syurga sedangkan Majnun masuk neraka?” Sekali lagi aku hanya menggelengkan kepala dan hanya menatapnya.

Tiba-tiba Kak Hisyam memegang kepalaku, digoyang ke kiri dan ke kanan. “Laila masuk syurga sebab mencintai Majnun karena Allah. Akibat cinta itulah Laila semakin dekat dengan Rabbnya. Nah, itu cinta yang benar!”

“Terus kenapa Majnun masuk neraka Kak?” Tanyaku penasaran.

“Karena cinta Majnun sama seperti cintamu saat ini. Sebab cinta kepada salah satu makhluk kamu sampai lupa kepada Allah, jauh dari Allah, dan itu salah,” aku hanya terdiam, buliran lembut tak terasa mengalir di pipi, hati rasanya sesak. Angin pun yang seharusnya terasa lembut menyentuh pipi, kali ini terasa amat sakit serasa tertampar.

Kak Hisyam menepuk pundakku. Aku hanya bergeming, sambil menyela air yang terus terusan mengalir di pipi. “Kamu harus (berani) hijrah, jika memang kamu benar-benar cinta dia, mengagumi dia, maka hargai dan cintailah dia karena Allah, lepaskan dengan ikhlas, dengan tanpa rasa sakit.

“Bagaimana caranya, aku bingung. Tangisku semakin menjadi.”

Ngomonglah baik-baik, insyaAllah jika memang dia sehati denganmu pasti akan sepaham.” Aku pun hanya mengangguk dan mengangguk.

***

Bunyi kodok saling bersaut-sautan dengan jangkrik yang lagi bersenda gurau, malam seolah terkesiap tanpa angin, sunyi, tenang dan tentram, awan pun tak menghalangi indahnya milyaran bintang diatas sana. Suasana malam ini memang terasa manja, apalagi ketika sehabis hujan reda seperti ini.

Kubasuh muka dengan air yang sudah menyatu dengan embun. Terasa sejuk diserap kulit, kubasahi tangan sampai pergelangan, sebagian rambut, telinga hingga kaki kusucikan sempurna malam ini. Kupijakkan kaki kanan di tangga masjid terlebih dahulu dengan dibarengi bacaan basmalah.

Masjid masih sepi malam ini, entah mungkin karena sudah lama aku tak pernah menjenguknya, susana jadi terasa agak berbeda. Masih ada beberapa santri yang tertidur di dalam masjid. Jadi ingat kenangan-kenangan dulu ketika diri ini masih giat belajar dan gemar iktikaf di masjid pesantren dengan beberapa teman. Kukebber sajadah tepat menghadap kiblat, malam ini aku ingin berserah kepada kekasih hati yang sesunguhnya, dengan diiringi derai air mata, “Aku kembali ya Allah....
[*]


4 Comments

  1. Yang baca buku karya sanoji itu Kak Hisyam atau Aaz ya? #jawab dong kodok...ups! 😄

    ReplyDelete
  2. Waow... ceritanya bagus Bang, terus berkaraya!

    ReplyDelete

Post a Comment