https://www.google.com/imgres?imgurl=http://kucingpedia.com/wp-content/uploads/2016/06/Gambar-Kucing-Gemuk-Lucu.jpg&imgrefurl=http://kucingpedia.com/cara-membuat-kucing-gemuk/&h=700&w=1051&tbnid=FZFH9i1MRco74M:&tbnh=133&tbnw=200&usg=__-4fytMx0KZ818fxC6It-uDFNp18%3D&vet=10ahUKEwi-gcr6-4XZAhVDvY8KHS_SCPsQ_B0IhwEwDA..i&docid=eoyBgvEE9FD_WM&itg=1&client=firefox-b&sa=X&ved=0ahUKEwi-gcr6-4XZAhVDvY8KHS_SCPsQ_B0IhwEwDA

عن أبى قتادة رضى الله عنه قال: فى الهرّة (انها ليست بنجس, انما هي من الطّوّافين عليكم) اخرجه الاربعة وصحّحه التّرمدي وابن خزيمة.

Dari Abi Qotadah (r.a) bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda sehubungan dengan kucing: “Sesungguhnya kucing tidak najis karena ia termasuk hewan yang jinak dan selalu berkeliling disekitar kalian.” (Disebut oleh al-Arba’ah, dinilai sahih oleh Tirmidzi dan Ibn Khuzaimah). - Hadits nomor sembilan, kitab Ibanatul Ahkam

Dalam hadits ini diterangkan tetang hukum kesucian kucing. Apakah sesuatu yang dilakukan kucing itu najis atau tidak? Hadits ini menerangkannya, bahwa apa saja yang dilakukan kucing tidak najis karena memang dari dzatnya sendiri tidak najis, bahkan sisa makanan kucing pun dapat dimakan (langsung) tanpa harus disucikan terlebih dahulu.

Hal tersebut didasari (illat) darurot karena memang kucing merupakan hewan yang selalu berkeliling disekitar manusia. Inilah yang mendasari kenapa kucing itu bukan termasuk hewan yang najis. Lain halnya dengan anjing (qalb) meski sama-sama hewan peliharaan, namun anjing tidak sama seperti kucing yang selalu berada disekitar manusia.

Kucing merupakan musuh terbesar perempuan (ibu-ibu) di rumah, karena memang kucing itu nakal, mengambil makanan, tidur di sana-sini, dan buang air sembarangan. Nabi pun menegaskan tetang hal ini dalam sebuah hadist,
 دخلت فى النار فى الهرة فى حبسط حبسط artinya: “Akan masuk neraka perempuan yang tidak memberi makan kucing”. Jadi disarankan terutama untuk perempuan ketika sudah tidak tahan akan kenakalan kucing dan hendak membuangnya, maka jangan niatkan untuk membuang tapi niatkanlah karena sudah tak mampu memberi makan.

Kemudian pengambilan hadits ini juga berada dikumpulan hadits yang ditulis dalam kitab al-Arba’ah (yang empat) yakni: Sunan Abi Dawud, Sunan Ibn Majah, Sunan al-Tirmidzi dan Sunan Nasa’i.

Makna Hadits Secara Keseluruhan  
Kucing itu tidak termasuk hewan yang najis (dzatnya), karena ‘illat darurotnya (الطوافين) yakni kucing selalu ada disekitar kita yang tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Keluar masuk rumah se-enaknya, sehingga kita tidak memungkinkan menjaga barang-barang yang ada di rumah dari jangkauan kucing.

Maka syariat menjadikan kucing sebagai hewan yang dimaafkan (di-ma’fu). Ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hambanya agar tidak kesuslitan dalam hal ini.

Latar belakang adanya hadits ini (asbab al-wurud), bahwa ketika itu Abu Qatadah meletakkan air minum kemudian datanglah seekor kucing dan meminumnya. lantas Abu Qatadah tidak marah melainkan memiringkan tempat air itu agar si kucing tadi lebih lega untuk minum. Setelah itu Abu Qatadah meminum air sisa kucing barusan, lalu datang seseorang menegur perbuatannya ini, Abu Qatadah pun menjawab bahwa Rosulullah Saw pernah bersabda demikian, “Sesungguhnya kucing itu tidak najis sehingga apa yang disentuhnya pun tidak najis”.

Analisa Hadits (Kalimat)
انها ليست بنجس, (Sesungguhnya kucing itu tidak najis). Lafadz najasun dengan dibaca fathah huruf jimnya maka artinya bendanya (‘aini/kahanan) yang najis dan tidak bisa disucikan. Jika dibaca najisun dengan membaca kasroh huruf  jimnya maka artinya benda yang terkena najis (mutanajis) dan masih bisa disucikan. Maka makna yang terkadung disini ialah kucing bukan sesuatu yang membawa najis. Lalu huruf  bha’ yang berada dalam lafadzبنجس  merupakan tambahan untuk menguatkan makna dan lafadz tersebut bahwa berkedudukan sebagai khabar kepada laisa.

انما هي, merupakan salah satu ungkapan qasr idhafi dan qasr qalb. Maksudnya lafadz tersebut untuk menepis dugaan atau anggapan orang bahwa kucing itu najis sama dengan anjing.

من الطوافين عليكم, merupakan bentuk jamak dari طواف Nabi Muhammad Saw pun menganalogikan kucing dengan pelayan (pembantu) rumah yang selalu sibuk melayani tuannya dan selalu berkeliaran disekitar tuannya.

Pemahaman Hadits (Fiqh)
Orang yang yang tidak tahu (bodoh/awam) akan hukum sesuatu permasalahan sangat dianjurkan agar bertanya kepada orang yang lebih tahu (‘alim). Memang seharusnya begitu ketika orang merasa tidak tahu, maka bertanyala.

Merupakan anjuran agar selalu berbelaskasih kepada hewan.

Kucing adalah binatang suci, begitu pula dengan bekas jilatannya dan sebagainya.

Jika terdapat najis pada mulut kucing maka tetap dihukumi najis karena ada benda najis yang melekat pada anggota tubuhnya. Tetapi najisnya itu bersifat berubah-ubah atau mendatang dan akan menjadi suci kembali apabila perkara najis itu hilang dengan sendirinya atau telah berlalunya waktu yang lama sejak terkena najis. 

Periwayat (orang)  Hadits
Abu Qatadah ialah al-Harits ibn Rib’i al-Anshari al-Sulami, salah seorang pasukan penunggang berkuda Rasullullah Saw. Beliau juga turut serta (menyaksikan) perang Uhud dan peperangan yang lain. Abu Qatadah telah meriwayatkan hadits sebanyak 170 hadits dan meninggal dunia pada tahun 54 Hijriah di Madinah.

Jadi kesimpulannya bahwa kucing itu tidak najis dan bukan binatang yang najis. Dalam Fathul Mu’in dijelaskan meski kucing itu jelas-jelas sudah lewat di benda najis contohnya becaren (air sisa kamar mandi) dan masuk kerumah itu di-ma’fu.

Mungkin ini yang dapat saya uraikan dari pengajian kitab Ibantul Ahkam hadits nomor sembilan, semoga kita selalu diberi pencerahan ilmu. Amin Allahummah amin!
[*]

7 Comments

  1. terima kasih, sangat membantu penjelasannya .. barakallaaah ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heheheh... injih bunda! Mohon kritik dan sarannya njih.

      Delete
  2. Terimakasih mas, saya penyuka kucing. Cuma kadang masih pikir2 kalau kucing yang saya pelihara perempuan, lantaran sering mbobot (maksudnya mengandung) tanpa seizin saya terlebih dahulu. Kalau izin dulu kan enak, saya bisa menyiapkan bekal diwaktu mendatang. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... saya juga penyuka kucing mas hehehe... kucing durhaka itu namanya mas, tanpa seizin atau minta restu dulu ke Mas Dwi malah langsung... hahaha.

      Delete
    2. Waow... jadi gitu ya. Siap2!

      Teruslah berkarya.

      Delete
  3. Alhamdulillah semoga selalu bermanfaat.

    ReplyDelete

Post a Comment